Engkau pernah ada di dalam cerita, dengan bentuk yang berbeda, hadir dengan segala arah, mendaki hingga kepuncak rasa, terekam dengan ingatan yang mencekam, namun hanya sesaat adanya.
Aku pernah mencoba untuk membuka cerita denganmu dan meyakinkan diriku
sendiri, kalau itu butuh proses, kalau itu butuh penyesuaian, kalau itu butuh waktu
yang tak sebentar, dan lain sebagainya.
Engkau dan cerita, aku pun bertahan, namun tak lama!
Entah mengapa, hatiku menyuruh untuk melangkah berbalik dari tujuan
sebelumnya.
Bukan hanya melangkah mundur, tapi balik kanan, dan mencoba maju
dengan tujuan baru yang abstrak nampaknya.
Awal-awal aku menyesali keputusanku yang hanya membuatku ragu akan
kehadiran sosok yang abstrak.
Aku menyesali langkah balik kananku, yang berujung pada
mengikhlaskanmu dengan berat hati aku terima.
Engkau tahu alasanku mengapa?
Ku rasas, engkau lebih tau, lebih paham, dan lebih menguasai di
segala situasi yang kupandang tampak terang di depan mata, namun gelap untuk kujalani.
Kalau boleh jujur! Berat rasa ini, untuk mengikhlaskan pergi,
tapi kenyataan ini yang membuatku ragu akan perjalanan diri, yang ternyata
penuh duri.
Terima kasih, atas pelajaran dini yang kau beri!
Terima kasih, atas pengharapan manis yang engkau ingkari!

Komentar
Posting Komentar